PDI Perjuangan Jabar Tingkatkan Advokasi Kesehatan, Ribka Tjiptaning: Rakyat Berhak Dapat Pelayanan Berkualitas

PDI Perjuangan Jawa Barat baru-baru ini melaksanakan Pelatihan Advokasi Kesehatan di Gedung Budaya Sabilulungan, Soreang, Kabupaten Bandung, pada Rabu (8/10/2026). Acara tersebut merupakan bagian dari inisiatif untuk memperkuat kapasitas relawan kesehatan dalam memberikan dukungan kepada masyarakat, khususnya bagi mereka yang mengalami kesulitan dalam mengakses layanan kesehatan. Dalam konteks ini, advokasi kesehatan menjadi kunci untuk memastikan bahwa setiap individu mendapatkan hak mereka untuk memperoleh perawatan medis yang layak.
Pentingnya Advokasi Kesehatan di Masyarakat
Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Kesehatan, Ribka Tjiptaning, menekankan bahwa pelayanan kesehatan di masyarakat masih menghadapi berbagai tantangan yang memerlukan perhatian serius. Meskipun pemerintah telah meluncurkan sejumlah program kesehatan, kenyataannya masih terdapat masyarakat yang terhambat ketika mereka memerlukan penanganan medis. Oleh karena itu, advokasi kesehatan menjadi sangat krusial dalam menciptakan kesadaran dan akses yang lebih baik terhadap layanan kesehatan.
Ribka mengungkapkan, “Usaha pemerintah untuk meningkatkan kesehatan masyarakat masih jauh dari harapan. Maka dari itu, PDI Perjuangan berkomitmen untuk berkontribusi lebih banyak agar rakyat bisa mendapatkan hak atas kesehatan mereka.”
Hambatan dalam Akses Pelayanan Kesehatan
Dalam pandangannya, isu-isu seperti administrasi kependudukan dan kepesertaan BPJS Kesehatan masih menjadi penghalang bagi sebagian masyarakat untuk mendapatkan layanan medis. Tidak semua orang memiliki dokumen kependudukan yang lengkap, terutama mereka yang tinggal di daerah terpencil atau yang memiliki akses terbatas terhadap layanan administrasi. Ini menciptakan ketidakadilan dalam sistem kesehatan yang seharusnya merata.
Ribka mencontohkan situasi masyarakat adat di beberapa daerah di Indonesia yang belum memiliki kartu tanda penduduk (KTP), yang berpotensi menyebabkan kesulitan dalam memperoleh layanan kesehatan. “Ada individu yang masih menghadapi masalah terkait KTP atau kartu BPJS. Sementara itu, ada juga yang bahkan tidak memiliki KTP. Fenomena ini harus menjadi perhatian serius, karena kesehatan adalah hak setiap warga negara,” tegasnya dengan tegas.
Pelatihan Sebagai Solusi
Pelatihan advokasi kesehatan yang diadakan oleh PDI Perjuangan bertujuan untuk membekali relawan dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk mendampingi masyarakat menghadapi masalah dalam pelayanan kesehatan, baik di rumah sakit maupun di fasilitas kesehatan lainnya. Ribka menyadari bahwa banyak individu merasa cemas ketika harus berobat ke rumah sakit, bukan hanya karena biaya yang tinggi tetapi juga karena prosedur administrasi yang rumit dan kurangnya pemahaman tentang hak-hak pasien.
“Hak masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan telah dijamin oleh konstitusi dan berbagai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sayangnya, masih banyak yang merasa takut untuk datang ke rumah sakit karena dianggap mahal atau sulit mendapatkan pelayanan,” ungkap Ribka.
Advokasi Kesehatan: Tanggung Jawab Bersama
Advokasi kesehatan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh elemen masyarakat. Pendampingan yang dilakukan oleh relawan kesehatan bisa membantu menumbuhkan kesadaran akan pentingnya akses terhadap layanan kesehatan yang berkualitas. Dengan pelatihan yang tepat, relawan dapat berperan sebagai jembatan antara masyarakat dan sistem kesehatan yang ada.
- Meningkatkan pemahaman masyarakat tentang hak-hak mereka dalam akses kesehatan.
- Memberikan informasi yang jelas mengenai prosedur dan biaya layanan kesehatan.
- Menjadi pendukung bagi mereka yang kesulitan dalam mengurus administrasi kesehatan.
- Membangun kepercayaan masyarakat terhadap institusi kesehatan.
- Memfasilitasi komunikasi antara pasien dan tenaga medis.
Tantangan dalam Implementasi Advokasi Kesehatan
Salah satu tantangan terbesar dalam advokasi kesehatan adalah stigma sosial yang melekat pada mereka yang membutuhkan layanan kesehatan. Banyak individu yang merasa malu atau takut untuk mencari pertolongan karena khawatir akan penilaian orang lain. Hal ini sering kali mengakibatkan penundaan dalam mendapatkan pengobatan yang tepat dan tepat waktu.
Ribka menjelaskan bahwa untuk mengatasi hal ini, diperlukan pendekatan yang lebih inklusif dan edukatif. “Kita perlu menciptakan lingkungan di mana setiap orang merasa aman untuk mencari bantuan medis tanpa rasa takut akan stigma,” ujarnya. Pendekatan ini juga harus melibatkan pendidikan kesehatan di tingkat komunitas untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang pentingnya pelayanan kesehatan.
Peran Teknologi dalam Advokasi Kesehatan
Dalam era digital saat ini, teknologi juga memainkan peran penting dalam advokasi kesehatan. Penggunaan aplikasi kesehatan dan platform online dapat mempermudah akses informasi dan layanan kesehatan. Dengan memanfaatkan teknologi, relawan kesehatan dapat menjangkau lebih banyak orang dan memberikan informasi yang dibutuhkan secara efisien.
Ribka mengusulkan, “Kita harus memanfaatkan teknologi untuk memberikan akses yang lebih luas kepada masyarakat tentang layanan kesehatan. Ini termasuk penyebaran informasi melalui media sosial dan aplikasi kesehatan yang dapat membantu masyarakat dalam memahami hak-hak mereka.” Dengan cara ini, advokasi kesehatan tidak hanya bersifat konvensional tetapi juga dapat menjangkau generasi muda yang lebih akrab dengan teknologi.
Kolaborasi untuk Meningkatkan Pelayanan Kesehatan
Advokasi kesehatan yang efektif juga memerlukan kolaborasi antara berbagai pihak, termasuk pemerintah, organisasi non-pemerintah, dan masyarakat itu sendiri. Kerjasama ini sangat penting untuk menciptakan program-program yang dapat menjawab kebutuhan kesehatan masyarakat secara menyeluruh.
Ribka menekankan pentingnya sinergi dalam upaya meningkatkan kesehatan masyarakat. “Kami percaya bahwa dengan bersinergi, kita dapat merancang program yang lebih efektif dan efisien dalam menjawab tantangan kesehatan yang dihadapi masyarakat,” ujarnya.
Membangun Kesadaran Melalui Edukasi
Untuk mencapai tujuan advokasi kesehatan yang diinginkan, pendidikan menjadi aspek yang tidak bisa diabaikan. Edukasi tentang kesehatan harus dimulai sejak dini dan dilakukan secara berkelanjutan. Hal ini dapat mencakup program-program penyuluhan di sekolah, pelatihan bagi orang tua, dan seminar bagi masyarakat umum.
“Dengan meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan, kita bisa mendorong mereka untuk lebih proaktif dalam menjaga kesehatan diri dan keluarganya,” tutup Ribka. Inisiatif seperti ini diharapkan dapat membawa perubahan positif dalam pola pikir masyarakat mengenai kesehatan dan akses layanan kesehatan yang berkualitas.
Masa Depan Advokasi Kesehatan di Indonesia
Ke depan, advokasi kesehatan di Indonesia diharapkan dapat semakin kuat dan terintegrasi dalam berbagai sektor. Dengan dukungan dari semua pihak, termasuk relawan dan masyarakat, langkah-langkah strategis dalam advokasi kesehatan dapat diimplementasikan dengan lebih efektif. Ini adalah momen yang tepat untuk membangun kesadaran kolektif akan pentingnya kesehatan sebagai hak fundamental setiap warga negara.
Ribka mengakhiri diskusinya dengan optimisme, “Saya percaya bahwa dengan upaya bersama, kita bisa mewujudkan masyarakat yang lebih sehat dan sejahtera. Kesehatan adalah investasi penting untuk masa depan bangsa.”
➡️ Baca Juga: Karya Tangan Badui Memukau Pengunjung di Bazar Harkop Harnas 2026
➡️ Baca Juga: Gubernur Jatim Ajak Masyarakat Manfaatkan Momentum Idulfitri untuk Sebarkan Perdamaian




