Trump Perintahkan Angkatan Laut Gantikan EMALS dengan Ketapel Uap untuk Luncurkan Jet Tempur dari Kapal Induk

Presiden Donald Trump telah mengeluarkan perintah kepada Angkatan Laut Amerika Serikat untuk menghapus sistem peluncuran pesawat yang menggunakan teknologi canggih dan beralih kembali ke penggunaan ketapel uap, yang merupakan sistem peluncuran yang lebih tradisional. Keputusan ini diambil sesuai dengan pengumuman resmi dari Gedung Putih pada tanggal 13 Agustus.
Biaya dan Implikasi dari Keputusan Ini
Mandat yang dikeluarkan oleh Trump diperkirakan akan memakan biaya miliaran dolar dan mengakibatkan kapal-kapal Angkatan Laut yang paling modern kembali menggunakan sistem yang lebih kompleks dan memerlukan lebih banyak pelaut untuk operasionalnya.
Dalam memo yang dikeluarkan, Pentagon dan Angkatan Laut diminta untuk menyusun rencana penghapusan Sistem Peluncuran Pesawat Elektromagnetik (EMALS) dalam waktu dua bulan. Selain itu, memo tersebut juga menyebutkan bahwa lift senjata yang menggunakan elektromagnetik pada kapal induk kelas Ford perlu diganti.
Sejarah Ketidakpuasan terhadap Teknologi Baru
Keputusan ini muncul setelah bertahun-tahun Trump mengkritik sistem peluncuran pesawat berbasis elektromagnetik yang dirancang untuk meluncurkan jet tempur dari dek kapal induk. Langkah ini diambil pada saat yang bersamaan ketika angkatan bersenjata AS sedang mencari dukungan pendanaan dari Kongres untuk peralatan yang diperlukan, dan Angkatan Laut menghadapi kesulitan dalam mengisi kebutuhan jumlah pelaut di kapal-kapalnya.
Ketidakpuasan Trump terhadap teknologi peluncuran baru ini telah ada sejak tahun 2017, ketika ia menyatakan bahwa sistem tersebut “tidak efisien” dan “kurang kuat” dibandingkan dengan ketapel uap yang lebih konvensional. Dalam sebuah wawancara dengan majalah Time, Trump mengungkapkan pandangannya yang kuat mengenai hal ini.
Dampak terhadap Kapal Induk Terkini
Dalam memo tersebut, Trump menegaskan bahwa kapal induk kelas Ford keempat, USS Doris Miller, akan menjadi yang pertama menerapkan perubahan ini. Oleh karena itu, kapal-kapal seperti USS Gerald R. Ford, USS John F. Kennedy, serta USS Enterprise yang sedang dalam proses pembangunan tidak akan terpengaruh oleh keputusan ini.
Namun, melakukan perubahan besar pada desain kapal yang sudah rampung bukanlah tugas yang sederhana. Mendesain ulang kapal untuk mengakomodasi sistem baru seperti ketapel uap memerlukan pertimbangan teknis yang mendalam.
Pernyataan dari General Atomics
General Atomics, perusahaan yang bertanggung jawab atas produksi EMALS, mengungkapkan kepada Associated Press bahwa keputusan untuk tidak melanjutkan pemasangan sistem tersebut di USS Doris Miller memerlukan evaluasi yang sangat hati-hati. Mereka menekankan bahwa perubahan mendasar dalam desain kapal yang sudah ada dapat memicu berbagai risiko, termasuk biaya tambahan dan keterlambatan dalam jadwal yang telah ditentukan.
Memo yang dikeluarkan oleh Trump juga mencatat bahwa salah satu tantangan yang dihadapi industri pembuatan kapal adalah perubahan desain Angkatan Laut yang terjadi secara terus-menerus, yang sering kali berakibat pada peningkatan biaya, penundaan, dan bahkan pembatalan proyek.
Risiko dan Tantangan dalam Implementasi
General Atomics menginformasikan bahwa pengerjaan pada ketapel dan alat penangkap pesawat di USS Doris Miller sudah mencapai tahap setengah selesai. Mengubah arah pada titik ini dapat menyebabkan risiko biaya, keterlambatan jadwal, dan integrasi yang signifikan.
Keputusan ini muncul di tengah momen kritis ketika Kongres sedang mempertimbangkan rancangan undang-undang anggaran dan pendanaan yang sangat diperlukan, yang menurut administrasi Trump akan mendukung kebutuhan Pentagon dan juga berhubungan dengan strategi militer terhadap Iran.
Perkiraan Biaya Perang
Menteri Pertahanan Pete Hegseth memperkirakan bahwa biaya yang terkait dengan operasi militer dapat meningkat menjadi $37,5 miliar. Hal ini terjadi bersamaan dengan rencana Partai Republik untuk menyusun paket pendanaan sebesar $95 miliar untuk mendukung militer, beserta prioritas-prioritas lain yang diinginkan oleh Gedung Putih.
Persaingan Global dalam Teknologi Militer
Sementara Trump berusaha untuk membatalkan penerapan teknologi baru, penting untuk dicatat bahwa negara lain, seperti Tiongkok, telah berhasil mengintegrasikan ketapel elektromagnetik pada kapal induk mereka. Selain itu, Prancis juga merencanakan untuk menggunakan sistem yang sama pada kapal induk baru yang sedang dalam pengembangan.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa meskipun Angkatan Laut AS sedang beralih kembali ke ketapel uap, negara lain terus maju dengan inovasi teknologi yang lebih modern dalam bidang militer. Ini menimbulkan pertanyaan tentang keunggulan strategis yang mungkin dimiliki AS di masa depan dalam konteks persaingan global yang semakin ketat.
Implikasi Jangka Panjang
Keputusan untuk kembali menggunakan ketapel uap dapat memiliki implikasi jangka panjang bagi Angkatan Laut AS, terutama dalam hal efektivitas operasional dan kemampuan untuk beradaptasi dengan teknologi baru. Dengan sistem yang lebih tua dan lebih rumit, mungkin ada kebutuhan untuk melatih lebih banyak pelaut, yang akan mempengaruhi anggaran dan sumber daya yang tersedia.
Meskipun ketapel uap telah terbukti efektif dalam sejarah militer, tantangan yang dihadapi oleh Angkatan Laut dalam menerapkan teknologi baru ini menunjukkan bahwa inovasi dan adaptasi adalah kunci dalam mempertahankan keunggulan militer di arena internasional.
Dengan berbagai faktor yang dipertimbangkan, keputusan ini akan menjadi topik yang terus dieksplorasi dan dibahas di kalangan analis militer dan pembuat kebijakan. Keberhasilan atau kegagalan dari langkah ini akan sangat bergantung pada bagaimana Angkatan Laut dan pemerintah AS menangani perubahan ini dan beradaptasi dengan tuntutan yang ada di lapangan.
➡️ Baca Juga: 7 Film Koboi Terbaik di HBO Max yang Wajib Ditonton untuk Penggemar Genre Western
➡️ Baca Juga: 41 SPPG di NTB Ditutup Sementara, Ketahui Penyebab dan Dampaknya di Sini



