Penyintas Terorisme Berbagi Pengalaman Menuju Ketangguhan dan Kedamaian yang Sejati

Jakarta – Setiap penyintas terorisme memiliki kisah unik yang menggambarkan perjalanan mereka dalam menghadapi trauma. Bagi sebagian orang, pemulihan bukan sekadar tentang melupakan pengalaman pahit, melainkan tentang menerima kenyataan masa lalu dan menemukan jalan untuk menjalani hidup yang lebih baik. Hal ini tercermin dalam acara Talkshow “Dari Luka Menjadi Kekuatan: Negara Hadir, Penyintas Bangkit” yang diselenggarakan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) di The Tribrata, Jakarta, pada Jumat, 21 Agustus 2026. Dalam acara tersebut, Kepala BNPT, Eddy Hartono, menegaskan pentingnya pendampingan yang komprehensif bagi penyintas.
Peran Negara dalam Pemulihan Penyintas Terorisme
Eddy Hartono mengungkapkan bahwa pemerintah berkomitmen untuk memberikan dukungan yang menyeluruh kepada penyintas terorisme. “Negara hadir untuk merawat ruang kebersamaan dan fokus pada perlindungan serta pemenuhan hak-hak korban. Ini termasuk penyediaan bantuan medis, rehabilitasi psikologis, dukungan psikososial, serta kompensasi bagi keluarga,” ujarnya dalam keterangan yang dirilis pada Minggu, 23 Agustus 2026. Ia menekankan bahwa pemulihan bagi penyintas memerlukan dukungan dari berbagai pihak, sehingga kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, kementerian, lembaga, dan organisasi masyarakat sipil harus diperkuat.
Kolaborasi untuk Kesuksesan Pemulihan
Sebagai bagian dari usaha ini, kolaborasi yang erat antara berbagai instansi pemerintah dan lembaga non-pemerintah sangat penting untuk mengoptimalkan proses pemulihan penyintas. Eddy menekankan bahwa sinergi antara semua pihak akan menciptakan lingkungan yang lebih mendukung bagi penyintas untuk melanjutkan hidup mereka dengan lebih baik.
Trauma yang Terus Menghantui
Wakil Ketua LPSK, Susilaningtyas, juga menyoroti bahwa proses pemulihan tidak selalu berakhir setelah bantuan awal diberikan. Trauma yang dialami penyintas bisa muncul kembali ketika mereka dihadapkan pada situasi yang mengingatkan mereka pada peristiwa tragis di masa lalu. “Meskipun peristiwa teror hanya terjadi sekali, efek trauma dan proses pemulihan dapat berlangsung seumur hidup. Kompensasi mungkin diberikan satu kali, tetapi kami terus mendukung pemulihan medis, psikologis, dan psikososial,” ungkapnya. Ia menekankan pentingnya pendampingan jangka panjang untuk membantu penyintas membangun kembali rasa aman dan menjalani kehidupan di masyarakat.
Pentingnya Pendampingan Jangka Panjang
Pendampingan yang berkelanjutan menjadi krusial agar para penyintas dapat merasa kembali aman dan terintegrasi dalam kehidupan sosial. Perjalanan pemulihan ini tidak hanya melibatkan bantuan fisik, tetapi juga proses yang lebih mendalam yang berkaitan dengan pengertian dan pengelolaan trauma.
Memilih Jalan Memaafkan
Salah satu penyintas, Tony Soemarno, yang selamat dari Bom Hotel J.W. Marriott pada tahun 2003, membagikan pengalaman transformasi pribadinya. Setelah melewati masa-masa sulit, Tony memilih untuk tidak membiarkan pengalaman pahit tersebut membentuk dendam dalam dirinya. “Awalnya sangat sulit untuk bangkit, tetapi saya mencapai titik di mana saya sadar bahwa pelaku teror juga manusia yang bisa melakukan kesalahan. Saya memilih untuk saling memaafkan dan tidak ingin menyimpan dendam, karena hati yang damai adalah apa yang Tuhan kehendaki,” katanya. Keputusan tersebut menjadi titik balik yang signifikan dalam hidupnya.
Peran Memaafkan dalam Proses Pemulihan
Melalui pengalamannya, Tony terlibat dalam upaya rekonsiliasi, termasuk mengunjungi lembaga pemasyarakatan untuk berbicara dengan narapidana terorisme. Ia juga menuangkan pemikirannya dalam bukunya yang berjudul “The Power of Forgiveness”. Menurutnya, memaafkan bukan berarti melupakan apa yang terjadi, melainkan memilih untuk tidak membiarkan kebencian mengendalikan masa depannya.
Pesan Kedamaian dari Penyintas
Mariane Ka’awoan, penyintas Bom Pasar Tentena di Poso pada tahun 2005, juga berbagi pandangannya mengenai makna kedamaian dalam proses pemulihan. “Jika saya tidak memaafkan, saya tidak akan merasakan kedamaian dan sukacita. Kebencian tidak pernah membawa kedamaian,” tegasnya. Pesan ini menunjukkan bahwa meskipun pengalaman mereka menyakitkan, memilih untuk memaafkan dapat membuka jalan bagi hidup yang lebih positif.
Berbagai Bentuk Pemulihan
Perjalanan hidup Tony dan Mariane menggambarkan bahwa pemulihan tidak memiliki satu bentuk yang seragam. Setiap individu membutuhkan pendekatan yang berbeda, mulai dari dukungan psikologis, sosial, hingga ruang untuk berbagi pengalaman. Dalam diskusi tersebut, Prof. Rhenald Kasali, seorang Guru Besar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia serta pendiri Rumah Perubahan, mengangkat konsep “healing through memories”.
Healing Through Memories
Menurut Prof. Rhenald, mengingat peristiwa masa lalu dapat menjadi sumber pembelajaran selama tidak berubah menjadi kebencian yang diwariskan kepada generasi berikutnya. “Istilah healing through memories bukan berarti kita terus-menerus hidup di masa lalu, tetapi lebih kepada menjadikan kenangan sebagai pengingat bahwa kebencian tidak perlu diwariskan,” jelasnya. Kita harus mengenang mereka yang telah pergi bukan hanya karena cara mereka meninggal, tetapi juga bagaimana kita dapat membawa nilai-nilai mereka ke dalam kehidupan yang lebih baik.
Proses Pemulihan sebagai Perjalanan Spiritual
Pemulihan bagi penyintas terorisme bukan hanya tentang kembali ke kondisi semula, tetapi juga merupakan perjalanan untuk menemukan kembali rasa aman, membangun harapan, dan menentukan bagaimana pengalaman masa lalu dimaknai. Dalam konteks Peringatan Hari Internasional Korban Terorisme 2026, kisah para penyintas ini menjadi pengingat penting bahwa luka yang diakibatkan oleh terorisme memerlukan perhatian jangka panjang.
Dukungan Berkelanjutan untuk Penyintas
Dukungan yang konsisten dan berkelanjutan sangat penting untuk membantu penyintas menjalani kehidupan yang lebih utuh. Dengan dukungan tersebut, mereka tidak hanya dapat sembuh dari luka fisik dan emosional, tetapi juga mampu membuka ruang bagi pesan-pesan perdamaian untuk terus berkembang di tengah masyarakat. Dengan demikian, pengalaman pahit yang mereka lalui dapat menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang, terutama dalam membangun kesadaran akan pentingnya perdamaian dan rekonsiliasi.
➡️ Baca Juga: Profil Frans Putros, Bek Persib yang Siap Tampil di Piala Dunia 2023
➡️ Baca Juga: Jadwal Pertandingan Wakil Indonesia di Kejuaraan Dunia BWF 2026 Hari Ini



