Madani Film Festival 2026 Siap Gelar 108 Film dari 29 Negara untuk Penonton Global

Jakarta – Komite Madani International Film Festival 2026 telah mengumumkan bahwa festival tahun ini akan menyuguhkan 108 film terpilih dari 29 negara, serta menyelenggarakan 15 sesi diskusi dalam program “ideas”. Ini menunjukkan komitmen festival untuk tidak hanya menjadi ajang pemutaran film internasional, tetapi juga sebagai wadah kolaborasi lintas disiplin seni yang berfokus pada tema utama “Rimpang”.
Transformasi Festival Menuju Ruang Kolaboratif
Dengan hadirnya program “ideas”, Madani Film Festival 2026 berupaya memperluas cakupan dan makna penyelenggaraan festival. Sebelumnya, festival ini lebih terfokus pada pemutaran film, namun kini bertransformasi menjadi ruang yang lebih interaktif dan kolaboratif. Tema “Rimpang” tidak hanya menjadi simbol, tetapi juga menjadi jembatan bagi berbagai inisiatif seni untuk berkumpul dan berbagi ide.
Pernyataan Anggota Dewan Festival
Inayah Wahid, salah satu anggota Dewan Madani International Film Festival, menjelaskan konsep tersebut dalam konferensi pers yang berlangsung di Teater Wahyu Sihombing, Gedung Trisno Soemardjo, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. “Pada festival Madani yang kedelapan, kami membahas tentang ‘misykat’, atau ceruk-ceruk cahaya. Kami berharap bahwa cahaya tersebut tidak hanya muncul satu per satu, tetapi bisa membentuk jaring yang lebih besar dan berakar kuat. Saat ini, gerakan Rimpang menjadi representasi dari harapan tersebut,” ujarnya.
Jadwal dan Proses Seleksi Film
Festival ini direncanakan berlangsung dari tanggal 7 hingga 11 Oktober 2026. Proses pendaftaran film dilakukan secara terbuka melalui platform FilmFreeway, yang berhasil mengumpulkan sekitar 1.500 karya. Selain itu, terdapat juga jalur kurasi khusus yang dilakukan secara mandiri untuk memilih film-film yang memiliki nilai seni tinggi.
Film Pembuka yang Menarik
Salah satu film yang terpilih untuk dibuka dalam festival ini adalah “The Stories”, sebuah karya dari sutradara Abu Bakar Shawky yang mewakili Mesir dalam ajang Oscar 2027. Film ini dipilih karena dianggap memiliki kedalaman dan relevansi yang tinggi dengan tema festival.
Diversitas Geografis dalam Pemilihan Film
Jalur pendaftaran terbuka berhasil memfasilitasi pengumpulan film yang mencerminkan keragaman budaya dan geografis dari dunia Muslim. Film-film yang diterima berasal dari berbagai wilayah, mulai dari Asia Barat seperti Iran, Asia Tenggara seperti Malaysia dan Indonesia, hingga karya dari negara-negara lain seperti Mauritania, Polandia, Selandia Baru, Irlandia, dan Bangladesh.
Makna Gerakan Rimpang
Tema Rimpang kali ini diartikan sebagai upaya untuk memperkuat jaringan kolaborasi dengan inisiatif seni independen dan berbagai platform seni lainnya di Jakarta. Hal ini dilakukan untuk mengatasi tantangan yang dihadapi dalam ekosistem seni serta keterbatasan anggaran.
Simbolisme Rimpang dalam Seni
Inayah menjelaskan bahwa rimpang, seperti jahe, memiliki sifat ketahanan yang kuat; meskipun dipotong, sisa potongannya dapat tumbuh kembali jika ditanam. Ini melambangkan semangat juang masyarakat Jakarta dalam mempertahankan ruang seni independen meskipun dihadapkan pada keterbatasan sumber daya dan anggaran.
Kolaborasi dengan Jakarta Biennale
Madani Film Festival 2026 juga berkolaborasi dengan Jakarta Biennale untuk memanfaatkan ruang bersama di Gedung Trisno Soemardjo. Kolaborasi ini dilakukan secara gotong-royong untuk menyemarakkan festival dan memperluas ruang bagi seniman untuk beraksi.
Program Film dan Kegiatan Komunitas
Program film festival ini juga diperkuat dengan pemutaran film di jaringan komunitas. Salah satu contohnya adalah pemutaran sinema alternatif yang diadakan oleh Majelis Sayur, yang menampilkan film-film hasil kurasi dari Efek Rumah Kaca (ERK). Selain itu, Festival Film Jelek juga turut berpartisipasi dengan mempersembahkan karya para penggiat kamera analog dari Pasar Gembrong, Jakarta Timur.
Agenda Rimpang dalam Pertunjukan Seni
Di samping program film, festival ini juga mengaktifkan tema “Rimpang” melalui berbagai pertunjukan seni. Salah satu agenda utama adalah “Pertunjukan Rimpang” oleh ERK, yang akan membawakan repertoar album terbarunya. Selain itu, akan ada pementasan tari kontemporer “Kisah Sagu” oleh komunitas Papua, yang bertujuan untuk mengkritik pergeseran konsumsi pangan lokal.
Diskusi dan Pembacaan Manuskrip
Dalam rangka memperkaya pengalaman festival, Madani juga menyelenggarakan diskusi bertajuk Madani Talks, yang akan diadakan di Galeri Foto Jurnalistik Antara. Sesi ini akan membahas pemikiran Islam modernis oleh Eric Sasono yang mengacu pada karya Asrul Sani. Selain itu, pembacaan manuskrip kuno juga menjadi bagian dari kegiatan festival melalui sesi “Ngariksa”.
Madani Film Festival 2026 tidak hanya menjadi platform untuk pemutaran film, tetapi juga menjadi ruang bagi seni untuk berkolaborasi, berbagi, dan tumbuh bersama. Dengan tema “Rimpang”, festival ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi banyak pihak dalam mengatasi tantangan yang ada di dunia seni dan budaya. Melalui berbagai program yang direncanakan, Madani Film Festival 2026 siap menawarkan pengalaman yang unik dan berharga bagi penonton dan peserta dari seluruh dunia.
➡️ Baca Juga: Memahami Istilah-Istilah dalam Mobile Legends untuk Mencegah Kesalahpahaman
➡️ Baca Juga: Sony Rencanakan Reboot Horizon Hunters Gathering, Beralih dari Game Live-Service?




