Peningkatan Pengeluaran Pemerintah untuk MBG Mendorong Kenaikan Harga Ayam Broiler

Jakarta – Peningkatan alokasi dana oleh pemerintah untuk program Makanan Bergizi Gratis (MBG) semakin terlihat jelas, di tengah tren naiknya harga ayam broiler yang mencapai puncaknya dalam beberapa tahun terakhir. Kombinasi antara permintaan yang meningkat dan pasokan yang semakin terbatas menjadi faktor pendorong utama dalam fenomena ini. Pengeluaran pemerintah untuk program MBG pada Februari 2026 tercatat mencapai Rp24,5 triliun, meningkat 25,6 persen dibandingkan bulan sebelumnya dan meloncat hingga 8.681 persen dibandingkan tahun lalu. Kenaikan ini didorong oleh tidak adanya periode libur sekolah dan bertambahnya jumlah Unit Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang beroperasi.
Pemanfaatan Program Makanan Bergizi Gratis
Secara total, pengeluaran untuk program MBG telah mencapai Rp44 triliun dalam dua bulan pertama tahun 2026, yang berkontribusi sekitar 13,1 persen dari total anggaran tahun ini. Program ini telah memberikan manfaat kepada sekitar 61,6 juta penerima melalui lebih dari 25 ribu SPPG yang tersebar di berbagai daerah. Meskipun mendapat kritik terkait pengurangan belanja untuk MBG ditengah ketegangan geopolitik global, termasuk konflik di Iran, para analis memperkirakan pengeluaran untuk program ini akan tetap stabil dalam beberapa bulan mendatang. Dengan cakupan penerima yang luas, pengeluaran bulanan diharapkan akan bertahan pada level saat ini selama sekitar sepuluh bulan ke depan.
Analisis Potensi Stabilitas Pengeluaran
Analis dari Mirae Asset Sekuritas, Andreas Saragih, menegaskan bahwa meskipun ada tantangan, tren pengeluaran untuk MBG tetap optimis. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjaga kesejahteraan masyarakat melalui akses terhadap makanan bergizi. Peningkatan alokasi dana ini sangat penting, terutama di tengah ketidakpastian global yang dapat mempengaruhi stabilitas sosial dan ekonomi.
Kenaikan Harga Ayam Broiler
Dari sisi harga, ayam broiler menunjukkan lonjakan signifikan. Pada Februari 2026, rata-rata harga pasar bulanan ayam broiler mencapai Rp23.256 per kilogram, mengalami kenaikan 21,3 persen dibandingkan tahun lalu dan 19,3 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Ini merupakan rekor harga tertinggi dalam beberapa tahun, mendekati level yang terakhir kali tercatat pada bulan Juli 2018 sebelum pandemi Covid-19 melanda.
Penyebab Kenaikan Harga
Kenaikan harga ini kemungkinan besar disebabkan oleh pasokan yang lebih ketat setelah kuota impor Grand Parent Stock (GPS) pada tahun 2024 yang lebih rendah, serta meningkatnya permintaan yang dipicu oleh program MBG. Program ini secara langsung berkontribusi pada peningkatan konsumsi produk unggas di dalam negeri.
- Rata-rata harga ayam broiler Februari 2026: Rp23.256/kg
- Kenaikan harga tahunan: 21,3%
- Kenaikan harga bulanan: 19,3%
- Rekor harga tertinggi sejak Juli 2018
- Rata-rata dua bulan pertama 2026: Rp21.373/kg
Harga Anak Ayam dan Biaya Produksi
Di sisi lain, harga rata-rata day old chick (DOC) atau anak ayam umur sehari pada Februari 2026 tercatat Rp6.999 per ekor, meningkat 11,2 persen secara tahunan, meskipun mengalami penurunan tipis 0,8 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Secara kumulatif, rata-rata harga DOC pada dua bulan pertama tahun ini mencapai Rp7.027 per ekor, yang merupakan sekitar 24 persen lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata tahun 2025.
Penurunan Harga Jagung
Dari perspektif biaya produksi, ada indikasi bahwa tekanan mulai mereda seiring dengan penurunan harga jagung sebagai bahan baku pakan. Rata-rata harga jagung domestik pada Februari 2026 mencapai Rp6.807 per kilogram, meskipun mengalami kenaikan 44 persen dibandingkan tahun lalu, namun turun 2,4 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Secara kumulatif, harga jagung berada pada level Rp6.890 per kilogram, atau sekitar 33,5 persen lebih tinggi dibandingkan rata-rata tahun 2025.
Proyeksi Harga Jagung ke Depan
Ke depan, harga jagung diperkirakan akan menurun seiring dengan meningkatnya volume produksi sekitar 4 persen pada musim panen kuartal pertama. Distribusi jagung pakan juga akan didorong oleh program Stabilisasi Pangan dan Harga (SPHP) yang digagas oleh Badan Pangan Nasional. Meskipun terdapat kekhawatiran di kalangan investor tentang performa saham di sektor unggas, fundamental sektor ini masih menunjukkan kekuatan.
Tantangan dan Harapan Sektor Unggas
Saat ini, kinerja saham unggas masih tertinggal dibandingkan dengan indeks pasar saham lainnya seperti Jakarta Composite Index maupun LQ45. Kekhawatiran investor terutama terkait dengan rencana kuota impor GPS pada tahun 2026 dan potensi perubahan regulasi dalam pengadaan soybean meal (SBM) sebagai bahan baku pakan. Namun, banyak analis berpendapat bahwa kekhawatiran tersebut mungkin berlebihan saat ini, mengingat risiko kelebihan pasokan ayam potong baru diperkirakan akan muncul pada tahun 2028.
- Harga DOC Februari 2026: Rp6.999/ekor
- Kenaikan harga tahunan DOC: 11,2%
- Penurunan bulanan DOC: 0,8%
- Proyeksi penurunan harga jagung
- Potensi kelebihan pasokan ayam: 2028
Dalam jangka menengah, dinamika penawaran dan permintaan di sektor unggas masih diperkirakan akan mendukung harga. Selain itu, segmen pakan tetap memiliki prospek yang baik, karena model bisnis yang ada memungkinkan produsen untuk meneruskan kenaikan biaya kepada pasar guna menjaga margin usaha. Dengan demikian, meskipun ada tantangan, sektor ini tetap menjadi salah satu pilar penting dalam ketahanan pangan nasional.
➡️ Baca Juga: Pemerintah Terapkan Diskon Tol Sebagai Strategi Atasi Kemacetan Saat Arus Mudik
➡️ Baca Juga: Friderica Widyasari Dewi Nahkodai OJK: DPR Harapkan Pemulihan Kepercayaan Publik dan Reformasi Fundamental Sektor Keuangan



