Perluasan Dedieselisasi Melalui Penghentian Pembangkit Listrik Gas dan Batu Bara

Ketergantungan yang berlebihan pada bahan bakar fosil, terutama batubara, menciptakan tantangan baru yang serupa dengan kondisi yang dihadapi oleh penggunaan minyak bumi. Dalam konteks perubahan iklim dan kebutuhan untuk beralih ke sumber energi yang lebih berkelanjutan, dedieselisasi menjadi agenda penting bagi banyak negara, termasuk Indonesia. Kebijakan ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada Bahan Bakar Minyak (BBM) dengan mengganti Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Dengan adanya fluktuasi harga energi global yang semakin tak terduga, pengembangan PLTS dan sumber energi terbarukan lainnya menjadi sangat relevan.
Langkah Strategis Menuju Dedieselisasi
Koordinator Strategi Kebijakan di CERAH, Dwi Wulan Ramadani, mengungkapkan bahwa kebijakan dedieselisasi ini seharusnya diikuti dengan penghentian pembangunan pembangkit fosil lainnya, seperti gas dan batubara. Pembangkit ini juga rentan terhadap perubahan harga yang terjadi di pasar global. Dalam banyak skema perdagangan internasional, harga gas masih sering terkait langsung dengan harga minyak, sehingga lonjakan harga minyak dapat berimbas langsung pada kenaikan harga gas. Ketergantungan terhadap batubara, dalam konteks ini, juga menciptakan risiko baru yang mirip dengan ketergantungan pada minyak bumi.
Dwi menekankan, “Program dedieselisasi akan memberikan dampak yang jauh lebih signifikan jika diperluas dengan menghentikan rencana pembangunan pembangkit listrik berbahan bakar gas dan batubara. Hal ini penting mengingat dominasi batubara dalam bauran energi nasional yang masih sangat besar.” Kebijakan ini menjadi bagian dari ambisi Indonesia untuk mencapai 100 GW kapasitas PLTS, sekaligus momen untuk mengurangi konsumsi bahan bakar fosil yang selama ini menjadi beban bagi stabilitas ekonomi dan fiskal dalam negeri.
Dampak Krisis Energi Global
Lonjakan subsidi energi menjadi ancaman bagi Indonesia selama negara ini masih bergantung pada energi fosil yang harganya dipengaruhi oleh kondisi geopolitik global. Dwi Wulan Ramadani juga menekankan bahwa krisis energi global yang sedang berlangsung dapat dimanfaatkan oleh pemerintah untuk mengintegrasikan ambisi pembangunan 100 GW PLTS ke dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL). Ini merupakan langkah mitigasi yang tepat untuk menggantikan energi fosil yang mahal dan tidak stabil dengan sumber daya domestik yang lebih terjangkau dan dapat diprediksi.
Manfaat Penggantian PLTD dengan PLTS
Pada kesempatan lain, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, menilai bahwa penggantian PLTD dengan PLTS yang dilengkapi dengan Battery Energy Storage System (BESS) dapat mengurangi konsumsi BBM secara signifikan dalam sektor kelistrikan. Saat ini, PLN mengoperasikan sekitar 5 gigawatt (GW) PLTD, baik yang dimiliki sendiri maupun yang disewa. Sebagian besar dari pembangkit diesel ini berada di daerah-daerah terpencil, di mana biaya logistik BBM sangat tinggi dan kondisi geografisnya cukup menantang.
Fabby menjelaskan, “Hal ini menyebabkan penyediaan listrik di lokasi-lokasi tersebut menjadi kurang handal dan biayanya sangat mahal.” Dengan mengganti PLTD menggunakan PLTS yang terintegrasi dengan BESS, akan ada tiga manfaat utama bagi PLN dan pemerintah. Pertama, biaya pembangkitan dapat ditekan secara signifikan. Fabby mencatat bahwa biaya produksi listrik di lokasi-lokasi tersebut dapat berkurang antara 30-50 persen setelah beralih ke PLTS + BESS, mengingat ketergantungan pembangkit diesel pada BBM yang harga dan biaya angkutnya sangat tinggi untuk wilayah-wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).
Keandalan dan Aksesibilitas Energi
Kedua, dengan menggunakan PLTS + BESS, pasokan listrik akan lebih handal dan terjangkau. Sistem ini mampu menyimpan energi untuk digunakan pada malam hari atau ketika cuaca mendung, sehingga layanan listrik 24 jam di daerah terpencil dapat lebih terjamin tanpa gangguan pasokan BBM. Ketiga, penggantian ini juga dapat menekan subsidi listrik. Biaya pokok penyediaan (BPP) listrik dari PLTD jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tarif listrik yang dibayarkan oleh masyarakat. Selisih tersebut biasanya ditutupi oleh subsidi negara. Dengan turunnya BPP berkat pemanfaatan PLTS + BESS, beban subsidi listrik dari pemerintah juga akan berkurang.
Menuju Energi Berkelanjutan
Pentingnya dedieselisasi dalam konteks keberlanjutan energi tidak bisa dipandang sebelah mata. Dengan semakin meningkatnya kesadaran akan dampak negatif dari penggunaan energi fosil terhadap lingkungan, transisi menuju energi terbarukan menjadi keharusan. Indonesia, sebagai negara dengan potensi energi terbarukan yang melimpah, harus memanfaatkan momen ini untuk beralih dari ketergantungan pada bahan bakar fosil ke sumber energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Langkah pemerintah dalam mendukung dedieselisasi melalui program penggantian PLTD dengan PLTS dan integrasi BESS adalah langkah strategis yang tidak hanya akan menguntungkan sektor energi, tetapi juga akan mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan. Dengan demikian, langkah ini berpotensi untuk membuka peluang baru dalam pengembangan industri energi terbarukan di Indonesia.
Tantangan dan Peluang dalam Proses Transisi
Namun, proses transisi ini tidak tanpa tantangan. Diperlukan investasi yang signifikan untuk mengembangkan infrastruktur energi terbarukan dan memastikan bahwa teknologi yang digunakan adalah yang terbaru dan paling efisien. Selain itu, perlu ada pelatihan dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia agar mampu mengelola dan memelihara teknologi baru ini.
- Pentingnya kebijakan yang mendukung inovasi energi terbarukan.
- Investasi dalam riset dan pengembangan teknologi energi bersih.
- Peran sektor swasta dalam mempercepat transisi energi.
- Membangun kesadaran masyarakat tentang manfaat energi terbarukan.
- Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan industri untuk menciptakan ekosistem energi yang berkelanjutan.
Secara keseluruhan, dedieselisasi dan penggantian pembangkit listrik fosil dengan sumber energi terbarukan adalah langkah penting untuk mencapai masa depan yang lebih berkelanjutan. Melalui langkah-langkah yang tepat, Indonesia dapat menjadi contoh bagi negara-negara lain dalam transisi menuju energi yang lebih bersih dan ramah lingkungan.
➡️ Baca Juga: BMKG Peringatkan Nelayan Antisipasi Gelombang Tinggi di Perairan Sumut 19–22 April
➡️ Baca Juga: Hibah Instansi Vertikal di Jabar Melejit pada 2026, Kodam Siliwangi Rp319,2 Miliar, Polda Jabar Rp214,1 Miliar




