Perbaikan Akses Logistik di Pelabuhan Muara Angke Diminta DPRD DKI Jakarta

Jakarta – Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta, M. Taufik Zoelkifli, mengungkapkan perhatian serius terhadap berbagai masalah yang masih menghantui Pelabuhan Muara Angke. Berbagai isu, mulai dari akses yang tidak optimal hingga kepadatan kapal, diidentifikasi sebagai faktor yang dapat membahayakan keselamatan para nelayan yang beroperasi di area tersebut.
Permasalahan Akses Menuju Pelabuhan
Salah satu kendala utama yang dihadapi adalah akses menuju pelabuhan yang sering kali terendam air, terutama saat musim hujan. Keadaan ini menghambat kelancaran aktivitas, yang pada gilirannya berdampak negatif terhadap mobilitas orang dan distribusi barang ke dan dari pelabuhan.
Taufik menegaskan, “Penting untuk memperbaiki akses ke pelabuhan agar pergerakan orang dan barang dapat berjalan lebih lancar.” Hal ini menunjukkan betapa vitalnya infrastruktur yang mendukung kelancaran operasional pelabuhan.
Peran Strategis Pelabuhan Muara Angke
Pelabuhan Muara Angke tidak hanya berfungsi sebagai pusat aktivitas perikanan, tetapi juga sebagai jalur transportasi laut yang penting bagi masyarakat. Lokasi ini menjadi akses utama menuju destinasi wisata Kepulauan Seribu serta jalur distribusi hasil laut ke berbagai wilayah di Jakarta.
Namun, tantangan yang ada di lapangan menunjukkan bahwa perhatian dari pemerintah daerah sangat dibutuhkan. Taufik mencatat bahwa pelabuhan ini memiliki peranan yang vital bagi berbagai sektor, termasuk nelayan dan industri pariwisata.
Kepadatan Kapal dan Resiko Keselamatan
Problematika lain yang diangkat oleh Taufik adalah isu overkapasitas kapal di pelabuhan. Kepadatan ini tidak hanya menghambat proses bongkar muat barang, tetapi juga meningkatkan risiko keselamatan, termasuk potensi kebakaran dan kecelakaan.
“Kondisi ini perlu ditangani dengan sistem yang lebih baik agar tidak menambah risiko yang ada,” katanya. Tanpa penataan yang efektif, kepadatan kapal bisa berdampak langsung pada efisiensi operasional pelabuhan dan aktivitas ekonomi masyarakat yang tergantung pada distribusi hasil laut.
Revitalisasi dan Perhatian Terhadap Nelayan
Di sisi positif, Taufik memberikan apresiasi terhadap upaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam melakukan revitalisasi fasilitas pelabuhan. Langkah ini dianggap telah meningkatkan kenyamanan, terutama bagi para penumpang transportasi laut. Namun, ia juga menekankan pentingnya memperhatikan aspek fungsional bagi nelayan, termasuk penataan kapal dan akses logistik.
Pembenahan Manajemen Pelabuhan
Taufik mengingatkan bahwa perbaikan tidak seharusnya terfokus pada aspek fisik saja. Penataan yang menyeluruh mencakup manajemen pelabuhan yang lebih baik, sistem operasional yang efisien, dan dukungan yang kuat bagi nelayan. Hal ini diperlukan agar pelabuhan dapat berfungsi dengan optimal dan memberikan manfaat bagi semua pihak yang terlibat.
Harapan untuk Kolaborasi dan Pengembangan
Lebih jauh, Taufik berharap agar ada kolaborasi yang erat antara pemerintah daerah dan instansi terkait dalam menyusun rencana penataan yang komprehensif. Ini meliputi perbaikan infrastruktur, pengaturan lalu lintas kapal, dan upaya pemberdayaan nelayan yang lebih terarah.
“Dengan pendekatan yang terintegrasi, saya yakin Pelabuhan Muara Angke dapat berkembang menjadi kawasan yang lebih modern dan tertib,” ujarnya. Taufik menambahkan bahwa pelabuhan ini dapat menjadi pusat perikanan yang efisien dan bersaing.
Mewujudkan Pelabuhan yang Modern dan Tertib
Dengan upaya yang konsisten dan komprehensif, Taufik berharap Muara Angke dapat bertransformasi menjadi pelabuhan perikanan yang modern dan memberikan kebanggaan bagi Jakarta. “Pelabuhan ini memiliki potensi besar untuk menjadi lebih baik, dan kita harus memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin,” pungkasnya.
➡️ Baca Juga: Harga BBM di Asia Tenggara 2026: Singapura Capai Rp 54 Ribu per Liter
➡️ Baca Juga: Rumah Subsidi di Karangmalang Mulai Rp150 Jutaan, Solusi Hunian Terjangkau di Sragen



