Kabut Asap Karhutla Menghambat Pelayaran di Pontianak, Kapal Barang Turunkan Kecepatan

Kabut asap yang dihasilkan dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah mulai mempengaruhi jarak pandang kapal-kapal angkutan barang yang beroperasi di perairan Pontianak, Kalimantan Barat. Hal ini menjadi perhatian serius, terutama saat kapal berlayar di malam hari, di mana visibilitas semakin menurun.

Pengaruh Kabut Asap Karhutla terhadap Operasional Kapal

Dalam situasi ini, para awak kapal terpaksa mengambil langkah pengamanan dengan menurunkan kecepatan pelayaran demi keselamatan. Ini adalah tindakan yang diperlukan untuk mengantisipasi potensi bahaya yang dapat muncul akibat kondisi cuaca yang buruk.

“Kabut asap ini sangat mengganggu, terutama saat malam hari. Sementara jika siang, kondisi masih sedikit lebih baik,” ungkap Aran, seorang awak kapal pengangkut sembako, saat dijumpai di Pelabuhan Seng Hie, Pontianak, pada hari Jumat.

Aran melanjutkan bahwa meskipun jarak pandang menurun, kapal tetap melanjutkan operasionalnya. Namun, kecepatan kapal harus dikurangi, terutama ketika kabut semakin mengental pada malam hari.

“Kami tetap berlayar, tetapi dengan kecepatan yang lebih rendah,” tambahnya.

Pengalaman Awak Kapal di Tengah Kabut Asap

Senada dengan Aran, Umar, awak dari KM Bapake, juga merasakan dampak yang sama. Ia menjelaskan bahwa jarak pandang pada siang hari saat ini berkisar antara 50 hingga 100 meter. Namun, malam hari menjadi tantangan tersendiri, di mana visibilitas menjadi semakin buruk, sehingga awak kapal harus lebih berhati-hati dalam menjalankan tugasnya.

“Saat siang, kami masih bisa melihat sekitar 100 meter, tetapi pada malam hari, visibilitas sangat terbatas, bahkan bisa kurang dari 50 meter. Dalam kondisi seperti itu, kami tidak dapat menjamin keamanan, sehingga kami harus mengurangi kecepatan,” jelas Umar.

KM Bapake melayani rute Pontianak-Telok Batang-Seponti, mengangkut berbagai kebutuhan pokok untuk masyarakat. Dengan waktu tempuh mencapai 24 jam, kondisi cuaca dan jarak pandang merupakan faktor yang sangat penting diperhatikan selama perjalanan.

“Meskipun kabut asap ini mengganggu, kami tetap melanjutkan perjalanan, tetapi harus benar-benar waspada,” tuturnya.

Dampak Kabut Asap Karhutla di Sektor Transportasi Udara

Gangguan akibat kabut asap tidak hanya dirasakan di sektor transportasi laut. Sektor penerbangan juga mulai merasakan dampak yang signifikan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kalimantan Barat melaporkan bahwa jarak pandang di Bandara Supadio Pontianak sempat turun di bawah satu kilometer pada pagi hari.

Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Kalbar, Soetikno, menyatakan bahwa kondisi ini terjadi sekitar pukul 05.00 hingga 07.00 WIB. Penurunan jarak pandang ini berpotensi menghambat aktivitas penerbangan, khususnya saat proses lepas landas dan pendaratan pesawat.

“Di Bandara Supadio, pada pagi hari antara jam lima hingga tujuh, jarak pandang memang kurang dari satu kilometer. Ini tentu dapat menghambat kegiatan take-off atau landing pesawat,” jelas Soetikno.

Normalisasi Jarak Pandang di Bandara

Soetikno juga menjelaskan bahwa jarak pandang di Bandara Supadio biasanya mulai membaik sekitar pukul 07.30 hingga 08.00 WIB, sehingga kembali bisa beroperasi dengan normal dan mendukung aktivitas penerbangan.

BMKG mengingatkan masyarakat dan pengguna transportasi agar tetap waspada terhadap dampak dari kabut asap karhutla. Hal ini menjadi semakin penting mengingat kondisi cuaca kering diperkirakan masih akan berlangsung hingga akhir September 2026.

Strategi Menghadapi Kabut Asap Karhutla

Dengan adanya kabut asap karhutla, penting bagi semua pihak untuk bersiap menghadapi tantangan ini. Dalam konteks transportasi, baik laut maupun udara, ada beberapa strategi yang bisa diterapkan untuk mengurangi dampak negatif dari situasi ini.

Dengan menerapkan strategi-strategi tersebut, diharapkan para pelaku transportasi dapat lebih siap menghadapi kondisi sulit yang ditimbulkan oleh kabut asap karhutla.

Peran Masyarakat dalam Mengatasi Karhutla

Di samping upaya dari pihak transportasi, peran masyarakat juga sangat vital dalam menangani masalah kebakaran hutan dan lahan. Kesadaran dan partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga lingkungan dapat membantu mengurangi risiko terjadinya karhutla.

Beberapa langkah yang bisa diambil oleh masyarakat antara lain:

Dengan langkah-langkah tersebut, masyarakat tidak hanya berkontribusi dalam mencegah terjadinya karhutla, tetapi juga dalam menjaga kualitas udara dan kesehatan lingkungan mereka.

Kesimpulan

Kabut asap karhutla memberikan dampak yang signifikan terhadap sektor transportasi di Pontianak, baik laut maupun udara. Penting bagi semua pihak untuk saling berkolaborasi dan mengambil langkah strategis dalam menghadapi tantangan ini. Melalui kewaspadaan, penggunaan teknologi, dan partisipasi aktif masyarakat, diharapkan dampak dari kabut asap dapat diminimalisir dan keselamatan dalam bertransportasi tetap terjaga.

➡️ Baca Juga: Rasakan Kemeriahan 9th Boltversary Bersama Boiyen Pesek di Hari Minggu Seru Ini!

➡️ Baca Juga: iQoo 16 Terungkap: Layar 165Hz dan Baterai 8.500 mAh Jadi Unggulan

Exit mobile version