DPR Dorong SPPG Kepri Pasang Label Batas Waktu Aman Konsumsi MBG

TANJUNGPINANG – Dalam upaya meningkatkan keamanan dan kesehatan konsumen, Komisi IX DPR RI mendorong pihak pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) agar memasang label yang menunjukkan batas waktu aman konsumsi untuk menu program Makan Bergizi Gratis (MBG). Langkah ini diharapkan dapat mencegah terjadinya kasus keracunan makanan yang kerap terjadi, khususnya di kalangan anak-anak sekolah.
Pentingnya Label Batas Waktu Konsumsi
Wakil Ketua Komisi IX DPR, Nihayatul Wafiroh, menyatakan bahwa pemasangan label tersebut bisa diterapkan pada wadah makanan MBG, sehingga penerima manfaat, terutama siswa, dapat mengetahui kapan waktu yang tepat untuk mengonsumsi makanan tersebut. Hal ini disampaikan setelah melakukan kunjungan ke dapur SPPG Polresta Tanjungpinang pada Kamis (23/4) pagi.
Di dalam kunjungannya, Wafiroh mencatat bahwa terdapat sejumlah kasus keracunan yang dialami oleh penerima manfaat akibat mengonsumsi makanan MBG setelah melewati batas waktu konsumsi yang telah ditentukan. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya penerapan langkah-langkah pencegahan yang efektif.
Penerapan Label untuk Keamanan Konsumsi
Wafiroh menegaskan bahwa untuk mencegah kejadian serupa di masa depan, dapur SPPG Polresta Tanjungpinang harus segera mengimplementasikan pemasangan label batas waktu aman konsumsi. Ini merupakan langkah proaktif untuk melindungi kesehatan penerima manfaat program MBG.
Standarisasi Proses Pembersihan
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Ketua Komisi IX tersebut juga memberikan saran mengenai proses pembersihan wadah makanan di SPPG yang baru beroperasi selama tiga bulan. Ia mengharapkan agar prosedur pembersihan tersebut dapat lebih terstandarisasi dan memenuhi standar higienis yang diperlukan.
Wafiroh memberi apresiasi kepada SPPG yang berada di bawah Yayasan Kemala Bhayangkari, yang telah melakukan tes makanan sebelum didistribusikan kepada penerima manfaat MBG. Langkah ini dianggap sangat penting dalam upaya mencegah keracunan makanan.
Tes Makanan sebagai Langkah Pencegahan
“Saya percaya bahwa penerapan food taste atau tes makanan sangat vital untuk diimplementasikan di seluruh SPPG agar menu MBG yang disajikan aman untuk dikonsumsi oleh penerima manfaat,” ungkap Wafiroh. Dengan adanya tes makanan, diharapkan dapat meminimalisir risiko keracunan yang mungkin terjadi.
Antusiasme Siswa Terhadap Program MBG
Setelah kunjungan ke dapur SPPG, Wafiroh bersama beberapa anggota Komisi IX DPR melanjutkan tinjauan ke Sekolah Dasar (SD) Katolik Tanjungpinang, yang berdekatan dengan SPPG Polresta Tanjungpinang. Di sana, ia mengamati antusiasme siswa terhadap program MBG yang disediakan.
Menurut Wafiroh, siswa-siswa terlihat sangat bersemangat saat menikmati makanan MBG, bahkan beberapa di antara mereka memilih untuk tidak sarapan di rumah agar bisa menikmati menu yang disajikan di sekolah. “Kami menyaksikan sendiri bagaimana siswa sangat lahap menikmati makanan MBG. Menu favorit mereka, umumnya adalah ayam,” tambahnya.
Masukan dari Guru untuk Menu MBG
Wafiroh juga berharap agar para guru di sekolah dapat memberikan saran dan masukan kepada SPPG maupun Badan Gizi Nasional (BGN) mengenai menu-menu MBG yang paling disukai oleh siswa. Dengan demikian, program ini dapat semakin sesuai dengan selera dan kebutuhan gizi anak-anak.
Peningkatan Komunikasi Melalui WhatsApp Grup
Selain itu, ia mendorong agar SPPG dan para guru dapat membuat grup WhatsApp untuk mempermudah komunikasi. Langkah ini diharapkan dapat membantu dalam menangani kendala-kendala yang mungkin muncul selama pelaksanaan program MBG. Dengan komunikasi yang baik, masalah bisa segera diidentifikasi dan diatasi.
Pengawasan Bersama untuk Optimalisasi Program
“Pengawasan yang melibatkan semua stakeholder sangat diperlukan, agar program yang dicanangkan oleh Bapak Presiden dapat berjalan dengan optimal,” jelas Wafiroh. Kerjasama antara pihak-pihak terkait akan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan program ini.
Kolaborasi dengan Berbagai Instansi Terkait
Dalam kunjungan kali ini, Komisi IX DPR didampingi oleh dinas-dinas terkait seperti BGN, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), serta BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. Kolaborasi ini menunjukkan komitmen semua pihak untuk meningkatkan kualitas gizi dan kesehatan masyarakat, terutama anak-anak di sekolah.
Dengan langkah-langkah yang telah diusulkan, diharapkan program Makan Bergizi Gratis dapat berjalan lebih efektif dan memberikan manfaat yang maksimal bagi penerima manfaat. Pemasangan label batas waktu konsumsi, pembersihan yang lebih baik, serta peningkatan komunikasi diharapkan dapat mendorong keberhasilan program ini.
Secara keseluruhan, upaya ini merupakan bagian dari tanggung jawab bersama untuk memastikan anak-anak di Provinsi Kepulauan Riau mendapatkan akses terhadap makanan bergizi, serta untuk menjaga kesehatan mereka agar tetap optimal. Dengan dukungan dari semua pihak, program ini diharapkan dapat terus berlanjut dan berkembang demi masa depan yang lebih baik bagi generasi penerus.
➡️ Baca Juga: Latihan Kebugaran Efektif untuk Menjaga Fleksibilitas Tubuh Seiring Bertambahnya Usia
➡️ Baca Juga: Kenaikan Minat Masyarakat Indonesia terhadap Kuliner Jepang Halal



