Bank Indonesia Pertahankan Stabilitas Rupiah di Pasar Offshore Meski Pasar Domestik Tutup

Menjaga stabilitas mata uang adalah salah satu tugas utama Bank Indonesia (BI), terutama dalam menghadapi tantangan yang muncul di pasar global. Meskipun pasar domestik sedang tutup akibat libur Hari Suci Nyepi dan Hari Raya Idul Fitri, BI tetap berkomitmen untuk memantau dan menjaga nilai tukar rupiah agar tetap stabil. Hal ini menjadi sangat penting, mengingat situasi geopolitik yang tidak menentu, termasuk ketegangan yang terjadi di Timur Tengah.
Peran Aktif Bank Indonesia di Pasar Offshore
Bank Indonesia mengambil langkah proaktif dengan melakukan pemantauan di pasar offshore. Dalam kondisi pasar domestik yang sepi, BI tetap sigap untuk menjaga pergerakan nilai tukar rupiah. Kegiatan ini menunjukkan komitmen BI untuk tidak hanya fokus di pasar dalam negeri, tetapi juga tetap aktif di arena internasional, meskipun saat itu sedang dalam periode libur.
Kepastian dari Gubernur BI
Gubernur BI, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa pihaknya tidak akan lengah dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Menurutnya, meskipun masyarakat merayakan libur Lebaran, aktivitas di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) tetap berlangsung. BI New York juga berperan aktif dalam memantau dan mengawasi pergerakan rupiah di luar negeri.
“Meskipun kita merayakan Lebaran, pasar offshore tetap berjalan. BI New York akan terus berperan dalam menjaga nilai tukar rupiah,” ungkap Perry dalam konferensi pers mengenai hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang diselenggarakan secara daring.
Pengawasan Pasar 24 Jam Non-Stop
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menambahkan bahwa bank sentral akan terus memantau pergerakan pasar rupiah terhadap dolar AS lewat NDF selama 24 jam. Ini menjadi langkah strategis dalam menjaga stabilitas di tengah situasi pasar yang bergejolak.
Kerja sama antara BI dengan BI New York sangat penting dalam konteks ini. Meskipun pasar domestik tutup, pemantauan dan intervensi tetap dapat dilakukan di pasar global jika situasi memburuk. Ini menunjukkan kesiapsiagaan BI dalam menghadapi potensi risiko yang mungkin timbul.
Fokus pada Volatilitas Pasar
Destry menekankan bahwa di tengah volatilitas yang tinggi dan ketidakpastian yang melanda, BI tetap berkomitmen untuk menjaga stabilitas rupiah. “Kami akan melakukan segala upaya yang diperlukan untuk memastikan nilai tukar tetap terjaga,” katanya.
- Intervensi di spot DNDF dan NDF untuk menjaga nilai tukar.
- Optimalisasi instrumen operasi moneter untuk menarik yield yang kompetitif.
- Monitoring terus menerus terhadap pasar global.
- Kesiapan melakukan intervensi jika diperlukan.
- Pendekatan yang responsif terhadap kondisi pasar yang berubah.
Data dan Statistik Terkini
Destry juga memberikan gambaran mengenai performa rupiah sepanjang bulan Maret. Ia mencatat bahwa rupiah mengalami depresiasi sebesar 1,29 persen secara month to date (mtd). Angka ini lebih baik dibandingkan dengan beberapa mata uang di kawasan seperti India yang terdepresiasi sebesar 1,52 persen dan Filipina yang mengalami penurunan hingga 3,71 persen.
“Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun ada tantangan, kami di Bank Indonesia terus berupaya menjaga stabilitas rupiah,” ujarnya. Ini menunjukkan bahwa meskipun ada tekanan di pasar global, BI tetap berusaha untuk meminimalisir dampak negatif terhadap nilai tukar rupiah.
Peningkatan Transaksi dengan Mata Uang Lokal
Di sisi lain, Destry mencatat bahwa transaksi menggunakan local currency transaction (LCT) mengalami peningkatan yang signifikan. Pada bulan Februari 2026, total transaksi LCT mencapai sekitar 4,12 miliar dolar AS, dengan kontribusi terbesar berasal dari Tiongkok, yang mencapai 3,026 miliar dolar AS.
Tren ini menunjukkan adanya kebutuhan yang semakin meningkat untuk melakukan transaksi menggunakan mata uang lokal di Indonesia, yang dapat membantu mengurangi ketergantungan pada dolar AS. Ini merupakan langkah positif yang sejalan dengan upaya BI dalam mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan.
Kesimpulan dan Harapan ke Depan
Bank Indonesia berkomitmen untuk terus menjaga stabilitas rupiah di tengah berbagai tantangan yang ada, baik di pasar domestik maupun internasional. Dengan pemantauan yang konstan dan strategi intervensi yang tepat, BI berharap dapat menjaga kepercayaan pasar serta mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Dengan langkah-langkah yang diambil, BI tidak hanya berfokus pada stabilitas jangka pendek, tetapi juga pada upaya yang berkelanjutan untuk menciptakan kondisi ekonomi yang lebih stabil dan sehat di masa depan.
➡️ Baca Juga: Informasi Stok BBM Simpang Siur, Risiko Panic Buying Mengintai
➡️ Baca Juga: Film “One Battle After Another” Raih Penghargaan Film Terbaik di Piala Oscar 2026




