Jakarta – Ketua Pusat Riset Mekatronika Cerdas di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Hanif Fakhrurroja, mengungkapkan tentang beragam cara generasi muda, khususnya Generasi Z, memanfaatkan kecerdasan buatan (AI). Dalam pernyataannya, Hanif menjelaskan bahwa AI kini bukan hanya berfungsi sebagai alat bantu kerja, tetapi juga berperan sebagai mesin pencari ketika menjelajahi dunia maya. Tradisionalnya, pencarian informasi dilakukan melalui platform seperti Google atau Microsoft Edge. Namun, saat ini, AI telah menjadi alternatif yang semakin populer. “Lebih dari 70 persen generasi muda menggunakan AI sebagai alat pencarian informasi,” ungkap Hanif dalam acara Smart Journalism yang berlangsung di Jakarta pada 15 Maret 2026.
Perubahan Paradigma Pencarian Informasi di Kalangan Generasi Z
Perubahan cara generasi Z dalam mencari informasi sangat dipengaruhi oleh kemampuan AI dalam memberikan referensi sumber yang jelas. Ketika pengguna berinteraksi dengan AI, seperti Chat GPT, mereka tidak hanya menerima informasi, tetapi juga disertai sumber yang dapat diverifikasi. “Ini memudahkan pengguna untuk mengecek kebenaran informasi yang mereka terima,” lanjut Hanif. Fenomena ini menunjukkan bahwa AI bukan hanya alat kreatif atau teknologi eksperimen, tetapi juga berfungsi sebagai jembatan bagi masyarakat untuk memahami isu-isu kompleks di dunia.
AI sebagai Gerbang Pengetahuan Baru
Penggunaan AI oleh Generasi Z sebagai mesin pencarian menandakan pergeseran besar dalam cara orang mencari dan memvalidasi informasi. AI membantu merangkum peristiwa dan menjelaskan isu-isu yang rumit, sehingga memudahkan generasi muda untuk memahami dunia yang terus berubah. Ini menunjukkan bahwa AI dapat berfungsi lebih dari sekadar alat; ia menjadi sumber pengetahuan yang mendorong eksplorasi dan pembelajaran.
- AI menyediakan sumber yang dapat diverifikasi.
- Memudahkan proses pencarian informasi.
- Membantu menjelaskan isu kompleks.
- Menjadi alternatif pencarian tradisional.
- Mendorong pemahaman yang lebih baik terhadap dunia.
Pentingnya Regulasi dalam Pemanfaatan AI di Pendidikan
Dalam konteks pendidikan, pemerintah juga mulai memperhatikan penggunaan AI. Melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) Tujuh Menteri, pemerintah memberikan pedoman mengenai pemanfaatan dan pembelajaran teknologi digital dan kecerdasan buatan di berbagai jalur pendidikan, baik formal maupun nonformal. SKB ini ditandatangani oleh sejumlah menteri, termasuk Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, serta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Abdul Mu’ti.
Pengaturan Penggunaan AI dalam Pendidikan
Pratikno menjelaskan bahwa meskipun ada batasan dalam penggunaan AI, pemerintah tetap mendukung penggunaan teknologi yang dirancang khusus untuk pendidikan. “Kami tidak melarang penggunaan teknologi, tetapi lebih pada pengaturannya agar sesuai dengan kebutuhan pendidikan di semua jenjang,” tegasnya. Dengan demikian, pembatasan tersebut tidak berarti bahwa generasi muda tidak diperbolehkan menggunakan AI sama sekali.
Dengan adanya regulasi ini, diharapkan generasi muda dapat memanfaatkan AI secara bijak dan bertanggung jawab. Hal ini penting untuk memastikan bahwa mereka tidak hanya mengandalkan teknologi tanpa memahami informasi yang mereka akses. Selain itu, pendidikan yang mengintegrasikan teknologi AI akan mempersiapkan generasi Z untuk menghadapi tantangan di masa depan.
Implicasi Positif dan Tantangan Penggunaan AI oleh Generasi Z
Penggunaan AI oleh generasi Z memiliki sejumlah implikasi positif, namun juga tidak lepas dari tantangan. Salah satu keuntungan terbesar adalah kemudahan akses informasi yang lebih cepat dan efisien. Generasi Z dapat menemukan informasi yang relevan dengan hanya beberapa klik, tanpa harus melalui proses pencarian yang panjang dan melelahkan.
Manfaat Penggunaan AI untuk Generasi Z
- Mempercepat akses informasi yang dibutuhkan.
- Meningkatkan efisiensi dalam proses belajar.
- Mendukung pengembangan keterampilan analitis dan kritis.
- Memberikan kesempatan untuk eksplorasi yang lebih luas.
- Mendorong kolaborasi dan diskusi di antara teman sebaya.
Namun, ada tantangan yang perlu dihadapi. Salah satunya adalah risiko penyebaran informasi yang tidak akurat. Karena AI mengandalkan data yang ada, ada kemungkinan bahwa informasi yang diberikan tidak selalu tepat atau terverifikasi. Oleh karena itu, penting bagi generasi Z untuk memiliki kemampuan kritis dalam menilai sumber informasi yang mereka terima.
Peran Pendidikan dalam Membentuk Sikap Terhadap AI
Pendidikan memainkan peran kunci dalam membentuk sikap generasi muda terhadap AI. Dengan pemahaman yang tepat tentang bagaimana AI berfungsi, generasi Z dapat memanfaatkan teknologi ini dengan bijak. Pengajaran tentang etika penggunaan AI dan dampaknya terhadap masyarakat sangat penting untuk diterapkan di sekolah-sekolah.
Strategi Pembelajaran yang Efektif
Untuk mempersiapkan generasi Z dalam menghadapi era digital, berikut adalah beberapa strategi pembelajaran yang dapat diterapkan:
- Integrasi teknologi dalam kurikulum.
- Pendidikan tentang literasi media dan informasi.
- Pemberian proyek yang memanfaatkan AI untuk tugas kreatif.
- Sesi diskusi tentang etika dan tanggung jawab penggunaan AI.
- Pendidikan tentang cara mengevaluasi informasi secara kritis.
Melalui strategi ini, generasi Z diharapkan dapat menjadi pengguna AI yang tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga bertanggung jawab. Mereka perlu dilatih untuk berpikir kritis dalam menghadapi informasi yang disajikan oleh AI, serta memahami dampak dari keputusan yang mereka ambil.
Masa Depan AI dan Generasi Z
Melihat ke depan, hubungan antara generasi Z dan kecerdasan buatan akan terus berkembang. Dengan kemajuan teknologi yang pesat, generasi ini akan menjadi pendorong utama dalam inovasi dan penggunaan AI di berbagai sektor. Mereka akan menjadi pencipta teknologi baru yang dapat memecahkan masalah yang ada di masyarakat.
Persiapan untuk Masa Depan yang Berkelanjutan
Generasi Z perlu dipersiapkan untuk menjadi pemimpin di era digital ini. Pendidikan yang berfokus pada pengembangan keterampilan teknis dan soft skills akan sangat diperlukan. Selain itu, pemahaman tentang keberlanjutan dan dampak sosial dari teknologi juga harus menjadi bagian integral dari pembelajaran mereka.
- Pengembangan keterampilan teknis yang relevan dengan industri.
- Pendidikan yang berfokus pada dampak sosial teknologi.
- Promosi keberlanjutan dalam penggunaan teknologi.
- Kolaborasi lintas disiplin untuk inovasi.
- Kesadaran akan tantangan etis dalam teknologi.
Dengan pendekatan yang tepat, generasi Z dapat mengoptimalkan potensi AI untuk menciptakan masa depan yang lebih baik. Mereka tidak hanya akan menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pencipta yang mampu memimpin perubahan positif di masyarakat.
➡️ Baca Juga: Optimalisasi Properti: Peran Chiller dan Saran AC Dua PK untuk Efisiensi Energi
➡️ Baca Juga: Angin Puting Beliung Terjang Dua Kecamatan di Cirebon, 242 Rumah Warga Rusak
